KEBUTUHAN kroto alias telur dari semut rangrang cukup
tinggi. Pemanfaatannya seperti sebagai pakan ocehan, unggas serta umpan memancing ikan. Jika hanya berburu dari satu pohon ke
pohon lain di alam bebas, stoknya dirasa masih kurang. Sehingga, usaha
membudidayakan semut rangrang atau semut kroto layak terus disebarluaskan.
Dua sahabat pembudidaya semut kroto, Widodo asal Sorolaten, Godean, Sleman, dan
Aji Ponto asal Ambarketawang, Gamping, Sleman, termasuk yang gencar menularkan
ilmu budidaya semut kroto. Keduanya juga biasa memberi pelatihan cara budidaya
semut kroto. Adapun untuk membudidayakan semut tersebut tidak perlu di kebun
dengan membuatkan sarang di pohonpohon. Namun, cukup menyediakan ruangan tidak
terpapar sinar matahari langsung.
Sarang semut kroto dibuat dari toples bening dengan lubang seujung jari sebagai
jalan keluar-masuk semut.
Menurut Widodo, semut kroto atau sering disebut rangrang maupun semut merah
akan mudah berkembang biak meski sarangnya tidak di pohon-pohon. Telurtelur
akan mengumpul di sarang dan mudah dilihat, karena menggunakan toples bening.
Semakin banyak semut maupun sarang di rak, diharapkan panenan krotonya akan
semakin banyak. Kroto kualitas super, saat ini, rata-rata dibanderol antara Rp
130.000 sampai Rp 240.000/ kilogram.
"Piranti saat memanen kroto antara lain menggunakan penyaring seperti yang
digunakan membuat cendol. Ada lagi wadah seperti baskom sebagai penampung
krotonya, dan bagian tangan menggunakan sarung tangan tipis diolesi tepung kanji,”
jelas Dodo, Selasa (9/4).
Dalam membudidayakan semut kroto, ungkapnya, cukup memberikan pakan wujud ulat
hongkong. Jumlah 12 sarang semut rata-rata hanya membutuhkan satu ons ulat
hongkong tiap minggu. Minuman cukup disediakan air satu gelas yang diberi satu
sendok gula pasir. Ia pun menyediakan bibit semut, yakni Rp 100.000 setiap
toples. Jika satu paket, harganya Rp 1,2 juta mendapat 12 toples.
”Kira-kira satu bulan sudah bisa diambil telur-telurnya,” papar Dodo.
Bibit dari Pemburu
Sedangkan warga Kotagede, Yogya, Baried pernah membeli satu sarang (toples)
semut kroto di tempat temannya kawasan Imogiri, Bantul. Hanya saja sampai saat
ini belum menjual krotonya, sebab memilih untuk dibiarkan menetas dulu.
Sekarang jumlah sarang semut kroto yang dimiliki lebih dari 20 buah. ”Terus
terang, saya masih eman-eman untuk menjual kroto. Biar dijadikan bibit dulu.
Paling-paling kalau ambil krotonya tidak banyak, sekadar untuk diberikan ayam
bekisar saya, biar gizinya tercukupi,” ungkap Baried.
Membeli bibit kroto, tuturnya, bisa juga di tempat-tempat penjual pakan burung.
Namun, tidak bisa menjamin tingkat keberhasilan menetasnya. Lain halnya jika
langsung ketemu pemburu kroto ataupun membeli di tempat pembudidayanya, tingkat
kesegaran dan daya tetasnya akan lebih tinggi. Penting untuk diperhatikan juga,
kaki-kaki rak untuk menempatkan sarang semut kroto perlu diberi air, oli,
maupun minyak goreng. Dengan cara ini semut-semut kroto hanya berkeliaran di
kawasan rak saja. Selain itu, stok pakan dan minumannya
harus selalu tersedia.
Ketika menemukan serangga mati seperti belalang dan kupukupu dapat diberikan
juga di wadah stok pakan yang berisi ulat hongkong. Semut kroto pun akan senang
memakan serangga tersebut. Tingkat produksi semut kroto
bisa maksimal terutama mulai Mei, Juni, dan Juli. ”Pada musim seperti ini
akan terlihat juga ratu-ratu semut dengan tampilan badan lebih besar,” imbuh
Baried.
(by Sulistyanto)