Sabtu, 12 Maret 2016

Budidaya Semut Kroto Tanpa Pohon



KEBUTUHAN kroto alias telur dari semut rangrang cukup tinggi. Pemanfaatannya seperti sebagai pakan ocehan, unggas serta umpan memancing ikan.  Jika hanya berburu dari satu pohon ke pohon lain di alam bebas, stoknya dirasa masih kurang. Sehingga, usaha membudidayakan semut rangrang atau semut kroto layak terus disebarluaskan.

Dua sahabat pembudidaya semut kroto, Widodo asal Sorolaten, Godean, Sleman, dan Aji Ponto asal Ambarketawang, Gamping, Sleman, termasuk yang gencar menularkan ilmu budidaya semut kroto. Keduanya juga biasa memberi pelatihan cara budidaya semut kroto. Adapun untuk membudidayakan semut tersebut tidak perlu di kebun dengan membuatkan sarang di pohonpohon. Namun, cukup menyediakan ruangan tidak terpapar sinar matahari langsung.
Sarang semut kroto dibuat dari toples bening dengan lubang seujung jari sebagai jalan keluar-masuk semut.

Menurut Widodo, semut kroto atau sering disebut rangrang maupun semut merah akan mudah berkembang biak meski sarangnya tidak di pohon-pohon. Telurtelur akan mengumpul di sarang dan mudah dilihat, karena menggunakan toples bening. Semakin banyak semut maupun sarang di rak, diharapkan panenan krotonya akan semakin banyak. Kroto kualitas super, saat ini, rata-rata dibanderol antara Rp 130.000 sampai Rp 240.000/ kilogram.

"Piranti saat memanen kroto antara lain menggunakan penyaring seperti yang digunakan membuat cendol. Ada lagi wadah seperti baskom sebagai penampung krotonya, dan bagian tangan menggunakan sarung tangan tipis diolesi tepung kanji,” jelas Dodo, Selasa (9/4).

Dalam membudidayakan semut kroto, ungkapnya, cukup memberikan pakan wujud ulat hongkong. Jumlah 12 sarang semut rata-rata hanya membutuhkan satu ons ulat hongkong tiap minggu. Minuman cukup disediakan air satu gelas yang diberi satu sendok gula pasir. Ia pun menyediakan bibit semut, yakni Rp 100.000 setiap toples. Jika satu paket, harganya Rp 1,2 juta mendapat 12 toples.  ”Kira-kira satu bulan sudah bisa diambil telur-telurnya,” papar Dodo.

Bibit dari Pemburu


Sedangkan warga Kotagede, Yogya, Baried pernah membeli satu sarang (toples) semut kroto di tempat temannya kawasan Imogiri, Bantul. Hanya saja sampai saat ini belum menjual krotonya, sebab memilih untuk dibiarkan menetas dulu. Sekarang jumlah sarang semut kroto yang dimiliki lebih dari 20 buah. ”Terus terang, saya masih eman-eman untuk menjual kroto. Biar dijadikan bibit dulu. Paling-paling kalau ambil krotonya tidak banyak, sekadar untuk diberikan ayam bekisar saya, biar gizinya tercukupi,” ungkap Baried.

Membeli bibit kroto, tuturnya, bisa juga di tempat-tempat penjual pakan burung. Namun, tidak bisa menjamin tingkat keberhasilan menetasnya. Lain halnya jika langsung ketemu pemburu kroto ataupun membeli di tempat pembudidayanya, tingkat kesegaran dan daya tetasnya akan lebih tinggi. Penting untuk diperhatikan juga, kaki-kaki rak untuk menempatkan sarang semut kroto perlu diberi air, oli, maupun minyak goreng. Dengan cara ini semut-semut kroto hanya berkeliaran di kawasan rak saja. Selain itu, stok pakan dan minumannya
harus selalu tersedia.

Ketika menemukan serangga mati seperti belalang dan kupukupu dapat diberikan juga di wadah stok pakan yang berisi ulat hongkong. Semut kroto pun akan senang memakan serangga tersebut. Tingkat produksi semut kroto
bisa maksimal terutama mulai Mei, Juni, dan Juli.  ”Pada musim seperti ini akan terlihat juga ratu-ratu semut dengan tampilan badan lebih besar,” imbuh Baried.  (by Sulistyanto)

6 komentar:

  1. Boleh tau cara budidayanya pak ?

    BalasHapus
  2. Sepertinya bisa dilihat di artikel dalam blog ini

    BalasHapus
  3. klau sya ingin bljar lbih cRa budidya ny bgaimna pak,ap bpa mngadkn pltihan ?

    BalasHapus
  4. Boleh belajar pelatihapepa

    BalasHapus
  5. bang jual benih kroto gak?

    BalasHapus